Gerakan Mahasiswa Intelektual Yakusa

Dengan Iman Ilmu dan Amal Kita Berjuang Yakin Usaha Sampai
Kamis, 06 Januari 2011

0
ISLAMIC CENTER (IC) PROGRAM KONKRET


Pembangunan IC bila dilihat dari standar penilaian masyarakat sudah sesuai dengan karakter masyarakat NTB.
NTB Bersaing; Beriman dan Berdaya Saing
Inilah visi besar pasangan gubernur wakil gubernur NTB; TGH. M. Zainul Majdi M.A. dan Ir. H. Badrul Munir M.M. yang telah menggoncangkan dunia perpolitikan sampai mengalahkan lawan-lawannya dalam pemilihan bursa gubernur pada tahun 2008-2013. Proses menjadi orang nomor satu di NTB merupakan langkah yang tidak mudah dicapai, apalagi bila melihat ketika pemilihan bursa gubernur tersebut rata-rata para kandidat semua tergolong politisi senior yang telah lama berkecimpung makan asam garam di dunia perpolitikan, ikutnya pasangan BARU dari kalangan  kaum muda di antara mereka merupakan suasana baru pula yang terjadi saat itu. Kemenangan yang diraih satu langkah proses membuktikan bahwa kemampuan kaum muda tidak boleh dinafikan. Sekali mancing langsung dapat, sekali terjun di dunia perpolitikan langsung jadi. Walaupun pra kondisi dimulai lewat legislatif tetap saja baru muncul di permukaan.
Untuk meyakinkan masyarakat sudah menjadi keharusan bagi semua calon untuk mengangkat sebuah visi yang bisa dijadikan gambaran tujuan. Jargon visi beriman dan berdaya saing tentunya bila mengambil makna kata yang terdapat di dalamnya mempunyai dua makna, dua orientasi yaitu beriman dan daya saing. Kata beriman merupakan kata yang tergolong kata umum yang memerlukan kata lain guna menambahkan redaksi untuk bisa memberikan pengertian khusus kepada pendengar atau pembaca. Hemat penulis menggunakan istilah beriman menjadi visi sudah tergolong bagus karena semua agama yang ada menggunakan istilah tersebut. Sedangkan kata berdaya saing juga kata yang masih memerlukan penjelasan panjang lebar untuk mengetahui daya saing mana yang dimaksud. Dengan belum jelasnya maksud dari visi tersebut, maka ada nama misi untuk melengkapi penjelasan lebih mendetailnya. Pilihan kata istilah untuk visi dan penggunaan kata yang terukur untuk misi juga salah satu factor kemengan saat itu.
Misi NTB bersaing sebagaimana yang telah ada; 1). Mengembangkan masyarakat madani yang berakhlakul mulia, berbudaya, menghormati pluralitas, dan kesetaraan gender; 2). Meningkatkan pelayanan pendidikan dan kesehatan yang berkeadilan, terjangkau, dan berkualitas; 3). Menumbuhkan ekonomi berbasis sumberdaya lokal dan mengembangkan investasi dengan mengedepankan prinsip pembangunan berkelanjutan; 4). Melakukan percepatan pembangunan infra struktur strategis dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi; 5). Menegakkan supremasi hukum, pemerintahan yang bebas KKN, dan memantapkan otonomi daerah.
Untuk menjawab pertanyaan dua makna kata visi di atas bisa dengan melihat misi, kalau kita pilah mana misi yang mengarah kepada beriman yaitu misi pertama dan kedua sedangkan ketiga sampai kelima mengarah kepada berdaya saing. misi kedua bisa masuk ke dua-dua visi namun penulis menilai lebih mengarah ke visi pertama walaupun juga bisa mengarah kepada bersaing dikarenakan lebih berorientasikan kepada pelayanan langsung tehnis yang bersifat praktis.
Melihat pandanan kata yang terdapat pada misi pertama bahwa beriman merupakan wilayah jiwa atau metafisik bukan wilayah fisik yang dapat terlihat langsung dengan mata kepala. Jadi, untuk mengukur sampai sejauh mana kinerja pencapaian misi gubernur untuk keberimanan rakyatnya bukan dengan melihat apa yang bisa dipantau indra tetapi suasana kedamaian kehidupan yang tergambar dari tingkat keimanan seseorang yang terdapat pada spritualitas masing-masing individu masyarakat. Bila pemerintah membidik keimanan seperti tolak ukur keimanan di atas maka pemerintah seharusnya lebih memperbanyak program-program yang mengarah pada pendidikan karakter masyarakat, pembinaan moralitas, serta memediasi terjalinnya silaturrahim yang mengarah kepada kecintaan. Tentu sesuai visi, program yang dibuat bisa menjawab pertanyaan, sudah berimankah rakyat NTB? Sejauh mana keberimanan rakyat NTB.
Sudah memasuki tahun kedua yang mana isu beredar bahwa realisasi program akan dimulai tahun ini, nyatanya program unggulan sebagai icon NTB bersaing yaitu pembangunan Islamic Center. Penulis menilai bahwa program membangun bangunan termasuk dalam kategori kongkret, ukurannya jelas terlihat di depan mata. Kalau menggunakan tolak ukur beriman di atas maka program pembangunan IC tidak termasuk program yang bisa membangun karakter keberimanan masyarakat karena bangunan hanyalah sarana yang bersifat dipakai. Artinya harus ada yang beriman terlebih dulu sebagai pemakainya.
Berbicara pemakai atau pengguna masjid mungkin perlu kita lihat dulu berapa jumlah masjid yang ada di NTB ini dan apakah penggunanya sudah maksimal atau tidak? Juga pertanyaan yang jawabannya positif masih menjadi tugas para tabligh dan umat Islam. Pulau yang terkenal dengan pulau seribu masjid ini mempunyai  sekitar 5000 masjid yang tersebar di pulau Lombok dan Sumbawa. Jumlah masjid di masing-masing desa terkadang sejumlah dusunnya sehingga mencapai angka 5000, namun kuantitas itu belakangan ini terdapat kontradiksi dengan kuantitas pengguna aktif sehingga banyak terdapat kata-kata nyeleneh seperti lebih banyak tiang daripada shap. Nyatanya kata nyeleneh itu bukan kata tidak berdasar yang bersifat isu belaka tiada guna tapi fakta di setiap masjid sudah membuktikannya. Oleh karena itu, keberimanan masih perlu untuk terus ditingkatkan yang merupakan tugas masing-masing individu dan tanggung jawab social bagi ulama’ dan umara’.
Jika IC dijadikan icon keberiman masyarakat NTB hemat penulis harus ada prime lain yang dipakai untuk melihat pembangunan IC sebagai pengarahan kepada beriman.
Perbandingan Karakter
Menurut penulis karakter bisa dilihat dari dua sudut pandang, pertama jejang pendidikan dan kedua pengalaman hidup seseorang. pendidikan sudah lumrah kita dapati seperti yang ada sekarang yaitu SD, SLTP, SLTA, dan Perguruan Tinggi.  Sudut pandang jenjang pendidikan ini yang lebih mudah dinilai perkembangannya sesuai tahapan jenjang pendidikan seperti karakter   siswa SD yang berkarakter menerima, siswa SLTP masih berada pada karakter penilaian konkret, siswa SLTA sudah mulai meninggalkan penilaian konkret menuju pada abstrak dan setelah menjadi mahasiswa penilaiannya sudah menggunakan ukuran abstrak dan akan berkembang susuai pengalaman dan umur. Hal serupa pula terjadi pada masyarakat secara umum, bila ditelisik  secara mendalam karkater masyarakat kaitannya dengan program pembangunan IC, maka dengan realita kekinian kita dapat mengambil kesimpulan bahwa klaster masyarakat kita masih berada pada posisi pemula. Sebagai contoh, perhatikan saja momentum pemilukada di setiap kota kabupaten di NTB, secara umum kebanyakan masyarakat memilih calon yang memberikan imbalan nyata berupa barang dengan tidak disertai kepekaan memperhatikan visi misi calon.
Bila dilihat perbandingan karakter dari sudut pandang jenjang pendidikan dengan sudut pandang pengalaman hidup, maka masyarakat NTB masih berada pada karakter pemula yang bersifat penerima. Tolak ukur yang pertama kali digunakan oleh karakter penerima ini langsung pada sesuatu yang kongkret, sulit dan bahkan tidak bisa menerima sesuatu yang abstrak.
Dalam konteks pembangunan IC yang dibahasakan sebagai icon NTB bersaing tersebut penulis memandang sudah selevel dengan karakter masyarakat NTB yang masih terpola pada penilaian konkret. Karena masyarakat masih pada kelas konkret maka kebijakan yang diambil pun haruslah konkret. IC kalau sudah berdiri dan bisa dipergunakan dan terdapat pengguna aktif maka boleh lah pemerintah mempunyai klim NTB beriman. Jika kita menggunakan cara pandang ini pemerintah sudah berhasil mencapai visi pertama yaitu beriman.
Namun tidak lengkap kalau sekiranya hanya menggunakan satu cara pandang seperti di atas karena itu akan membuat kita termasuk dalam kategori masih melihat yang kongkret-kongkret saja. Walaupun pada implementatifnya program kongret dominan berlaku, program abstrak pun tidak boleh dinapikan. Bayang-bayang abstrak sedikit demi sedikit harus ada menghiasi sebagai variasi agar kelihatan cantik di mata semua orang, mengingat masyarakat yang heterogen, biasa kita sebut kelas atas, menengah, dan bawah baik pada tataran keberimanan dan ekonomi.

Senin, 27 Desember 2010

0
MANUSIA DAN PETUNJUK

Oleh; Abdullah Zulfa
Manusia dalam hidupnya mempunyai tujuan. Tujuan itu mulai tergambar pada benak manusia ketika manusia sudah mulai memasuki umur keremajaannya. Dalam umur remaja ini manusia memiliki macam-macam tujuan hidup tergantung pada fase sebelum remaja yaitu fase anak-anak, karena pada fase anak-anak ini manusia mendapat stimulant dari luar seperti lingkungan mereka dan yang paling mendominasi stimulannya ialah orang tua. Walaupun bermacam-macam stimulant yang dimilki pada fase remaja sampai dewasa tetap berkutat pada dua dimensi, yaitu dimensi dunia dan dimensi dunia akhirat. Untuk membuktikan tujuan-tujuan tersebut dapat kita perhatikan aktivitas yang dilakukan oleh manusia dalam hidupnya. Ada yang mempunyai aktivitas hanya untuk mengejar materi dan ada yang mempunyai aktivitas untuk mengejar nilai-nilai dan materi.
Dengan terbaginya tujuan hidup menjadi dua sudah dapat pula dibagi bahwa manusia akan mendapat balasan dua bentuk pula, balasan buruk dan balasan baik. Balasan buruk kita sebut dengan azab neraka dan balasan baik disebut nikmat surga. Untuk mengetahui bagimana perjalanan panjang manusia dalam menggapai tujuan yang akan mempunyai konsekwensi itu dengan melihat apakah manusia mempunyai petunjuk yang benar-benar mereka jalani dan taati atau tidak.
Marilah kita cermati fenomena kehidupan social saat ini, dimana media massa baik elektronik maupun cetak berperan banyak sekali pada semua aspek kehidupan manusia. Apalagi di kehidupan lingkungan perkotaan akses informasi yang tidak dapat diketahui kecepatannya, dengan adanya internet semua informasi dapat diakses dengan begitu cepatnya tidak kenal ruang yang jauh. Walaupun ruang itu tidak pernah dilihat apalagi pernah datang ketempat tersebut, namun akan dapat diketahui keadaan ruang itu dengan mengotak atik internet, maka tampilan demi tampilan yang diperlihatkan begitu saja bisa mengantarkan pengakses pada informasi apa saja yang ia iangin dapatkan.
Kalau di pedasaan rata-rata pada setiap rumah memiliki televise yang siap ditonton kapan saja, sedangkan di kota sudah banyak terdapat warnet atau area hot spot yang bisa diakses kapan saja sesuai keinginan orang. Dengan demikian, cultur daerah setempat bisa salaing mengetahui, oleh masing-masing manusia yang menempati salah satu daerah atau kota bahkan Negara dapat mengetahui keadaan daerah lainnya atau Negara lainnya pula. Dengan informasi yang begitu luas yang tersebar ke masyarakat tanpa ada penyaringan akan dapat membuat kerancuan cultur. Kita bisa melihat cara berpakaian anak muda zaman sekarang ini, hampir semuanya sama rata tidak kenal ruang, baik yang ada di Jakarta, Medan, Sumatra, Denpasar, Mataram dan lainnya. Yang lebih ekstrimnya lagi tidak kenal agama, semua cara berpakaiannya sama.
Fenomena seperti itu sudah menandakan persaingan antar agama atau  antar pemikiran manusia. Artinya siapa yang menguasai media, maka tampilan pemikirannyalah yang akan mewarnai dan diikuti banyak orang. Karena media selain perannya sebagai pemberi informasi juga di sisi yang lebih dalam dapat mengubah manusia dengan informasi yang disampaikannya. Telah terbukti bahwa manusia zaman sekarang ini dalam kehidupannya lebih banyak yang terfragmentasi oleh trend yang sedang berlaku atau terpampang di sudut-sudut kolom media. Trend itu tidak melihat budaya, adat, bahkan agama sekalipun. Maka boleh dibilang sekularisasi kehidupan sedang berjalan di muka bumi.
Sekarang kita coba cermati manusia yang memeluk agama, karena kita berada di Indonesia yang mayoritas agama Islam maka mari kita lihat manusia yang beragama Islam dengan membadingkan kehidupannya dengan yang beragama lain. Banyak manusia yang mengaku Islam namun kelakuannya sama saja dengan mereka yang tidak beragama Islam. Dalam kehidupan kesehariannya tidak menunjukkan nilai-nilai Islam yang terkandung dalam kitab suci al-Qur’an dan sunnah nabi.
Bagi manusia yang memeluk agama Islam sebenarnya tidak ada pilihan lain yang harus diikuti adalah al-Qur’an dan sunnah nabi. Jika ada yang mengambil petunjuk dari yang lain maka sebenarnya secara tidak langsung sudah mengingkari kesepakatan awal bahwa ia telah memilih Islam. Mari kita perhaitkan bagaimana seseorang bisa dikatakan sebagai muslim. Persyaratan pertama yang harus dilakukan ialah mengikrarkan bahwa ia telah memeluk Islam dengan menyebut dua kalimah syahadah, setelah menyebut dua kalimah syahadah maka persyaratan lainnyapun menyusul ketika waktunya sudah datang seperti mendirikan salat, berpuasa pada bulan ramadhan, membayar zakat, dan menununaikan hajji jika mampu. Semua persyaratan untuk menjadi muslim tadi intinya pada persyaratan pertama, persyaratan kedua sampai keempat merupakan konsekwensi dari persyaratan pertama. Oleh karena itu, yang harus disempurnakan terlebih dulu ialah persyaratan pertama.
Kita semua mengetahui bahwa persyaratan pertama untuk menjadi muslim dengan membaca dua kalimah syahadah. Namun perlu diketahui juga bahwa bacaan dua kalimah syahadah tersebut tidak seenteng mengucapkan kalimat biasa seperti ucapan-ucapan keseharian. Pengucapan dua kalimah syahadah harus terintegrasi semua aspek yang terdapat dalam diri masnusia, yaitu aspek kesadaran kognitif. sadar dengan ucapannya yang tergambar pada pengetahuan tentang arti dari apa yang diucapkan. Kedua, aspek kesadaran hati. Tidak mempunyai pilihan lain selain meng-ia-kan perkataan yang telah diucapkannya tanpa ada rasa keragu-raguan sedikitpun, konsentrasi penuh atau mengosongkan hati untuk diisi oleh syahadah yang diucapkan. Ketiga, pembuktian. Dari kalimah yang diucapkan harus disertakan dengan pembuktian dalam bentuk tindakan. Tindakan sangat diperlukan karena sesuatu hal dapat disebut sebagai nilai apabila sesuatu itu sudah dilakukan. (bersambung)

 
LAPMI HMI CABANG MATARAM | © 2010 by DheTemplate.com | Supported by Promotions And Coupons Shopping & WordPress Theme 2 Blog